Memakai jas, berkaca mata, membaca buku, stereotype kata terpelajar yang terpatri di benak kebanyakan orang. Pendidikan telah kita dapat di bangku sekolah, dan diwajibkan oleh pemerintah selama 12 tahun. Selanjutnya setelah 12 tahun, sekolah hanya menjadi sunnah, dan berlaku bagi mereka yang mampu, dari segi ekonomi maupun prestasi. Beranggapan masa depan akan suram jika sekolah hanya menjadi tamatan SMA, membuat mereka berlomba-lomba mencari materi untuk dapat sekolah di tempat terbaik, demi meraih cita-cita yang diinginkan. Selama ini tradisi ini kian menjamur di masyarakat.
Bahagia terasa, jika kita dapat mengenyam pendidikan di tempat favorit, tidak jarang kita memaksakan kehendak tanpa melihat materi dan kemampuan otak. Universitas populer kian tahun kian membludak peminatnya, tingkat kesulitan persyaratan saat masuk-pun menjadi sebuah tantangan. Ini semua mesti kita tempuh jika ingin mematahkan kesuraman masa depan. Terpelajar kerap disandingkan dengan gelar, tingkat sosial atau bahkan nama belakang populer. Ini mempersempit tanggapan bahwa hanya itulah terpelajar dapat dinilai.
Padahal pada realitasnya, pengalaman merupakan guru yang dapat menjadikan personal terpelajar. Dilihat dari masa lalu negara kita, ada beberapa pendiri Indonesia bahkan tidak mengenyam bangku pendidikan sama sekali, termasuk Ki Hajar Dewantara Sang Bapak Pendidikan, yang bahkan hari kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara-nya dunia seni pun ada, dia adalah Affandi seorang pelukis (1907-1990). Memiliki nama lengkap Affandi Koesoema, dan dilatar belakangi pendidikan yang hanya mengandalkan pengalaman hidup, tidak membuat ia patah semangat. Belajar secara otodidak mampu mengantarkanya sebagai pelukis handal yang dikenal dunia internasional. Banyak pelukis Indonesia yang berlatar pendidikan lebih baik, namun belajar kepada Affandi. Banyak orang yang berlomba-lomba belajar untuk dapat masuk sekolah favorit. Meluangkan banyak waktu dengan biaya yang sedikit. Berharap cita-citanya yang konon setinggi langit itu dapat tercapai. Namun, tidak sedikit, justru sekolah yang tidak diperhitungkan sama sekali dapat melahirkan pemikir-pemikir cerdas yang bisa membanggakan bangsa. Tengok saja dua murid SMA Advent Doyo Baru, Jayapura yang menjadi buruan NASA untuk ikut meneliti gerak-gerik benda angkasa.
Walau sebagian besar jalur pendidikan semakin sulit dan rumit, murid Indonesia mampu berprestasi di kancah internasional. Ketika pendidikan kian sulit dan rumit, banyak dari mereka beralih terhadap pengalaman. Belajar dari kebiasaan keseharian, membuat mereka khatam dalam melakukan. Bayangkan jika ini berbicara tentang berkarya. Karya sendiri melingkupi banyak hal, tidak hanya melalui hal-hal formal saja. Dengan melihat dunia pendidikan dewasa ini, terasa wajar jika banyak yang memilih jalan ini. Entah konservatif atau liberal semua tergantung personalnya. Terkadang ilmu dapat membuat orang yang memakainya menyalahgunakanya. Sistem bisa saja diakali, namun seharusnya tidak merugikan orang lain. Seperti koruptor di Indonesia, nepotisme di ajang pencarian bakat, suap hanya karena takut ditilang, menikung gebetan teman, berselingkuh, itu merupakan penyalahgunaan ilmu yang didapat. Menyenangkan diri sendiri dan merugikan orang lain.
Bahagia terasa, jika kita dapat mengenyam pendidikan di tempat favorit, tidak jarang kita memaksakan kehendak tanpa melihat materi dan kemampuan otak. Universitas populer kian tahun kian membludak peminatnya, tingkat kesulitan persyaratan saat masuk-pun menjadi sebuah tantangan. Ini semua mesti kita tempuh jika ingin mematahkan kesuraman masa depan. Terpelajar kerap disandingkan dengan gelar, tingkat sosial atau bahkan nama belakang populer. Ini mempersempit tanggapan bahwa hanya itulah terpelajar dapat dinilai.
Padahal pada realitasnya, pengalaman merupakan guru yang dapat menjadikan personal terpelajar. Dilihat dari masa lalu negara kita, ada beberapa pendiri Indonesia bahkan tidak mengenyam bangku pendidikan sama sekali, termasuk Ki Hajar Dewantara Sang Bapak Pendidikan, yang bahkan hari kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara-nya dunia seni pun ada, dia adalah Affandi seorang pelukis (1907-1990). Memiliki nama lengkap Affandi Koesoema, dan dilatar belakangi pendidikan yang hanya mengandalkan pengalaman hidup, tidak membuat ia patah semangat. Belajar secara otodidak mampu mengantarkanya sebagai pelukis handal yang dikenal dunia internasional. Banyak pelukis Indonesia yang berlatar pendidikan lebih baik, namun belajar kepada Affandi. Banyak orang yang berlomba-lomba belajar untuk dapat masuk sekolah favorit. Meluangkan banyak waktu dengan biaya yang sedikit. Berharap cita-citanya yang konon setinggi langit itu dapat tercapai. Namun, tidak sedikit, justru sekolah yang tidak diperhitungkan sama sekali dapat melahirkan pemikir-pemikir cerdas yang bisa membanggakan bangsa. Tengok saja dua murid SMA Advent Doyo Baru, Jayapura yang menjadi buruan NASA untuk ikut meneliti gerak-gerik benda angkasa.
Walau sebagian besar jalur pendidikan semakin sulit dan rumit, murid Indonesia mampu berprestasi di kancah internasional. Ketika pendidikan kian sulit dan rumit, banyak dari mereka beralih terhadap pengalaman. Belajar dari kebiasaan keseharian, membuat mereka khatam dalam melakukan. Bayangkan jika ini berbicara tentang berkarya. Karya sendiri melingkupi banyak hal, tidak hanya melalui hal-hal formal saja. Dengan melihat dunia pendidikan dewasa ini, terasa wajar jika banyak yang memilih jalan ini. Entah konservatif atau liberal semua tergantung personalnya. Terkadang ilmu dapat membuat orang yang memakainya menyalahgunakanya. Sistem bisa saja diakali, namun seharusnya tidak merugikan orang lain. Seperti koruptor di Indonesia, nepotisme di ajang pencarian bakat, suap hanya karena takut ditilang, menikung gebetan teman, berselingkuh, itu merupakan penyalahgunaan ilmu yang didapat. Menyenangkan diri sendiri dan merugikan orang lain.
Tidak ada komentar